Strategi Usaha Kecil Melakukan Inovasi

Bagaimana usaha kecil bisa melakukan inovasi tanpa henti ? Apa kunci dan strateginya ?

Banyak kalangan berpendapat, inovasi hanya produk kaum jenius. Tanpa pendidikan tinggi dan ilmu kompleks, sebagian orang melihat inovasi sebagai hal mustahil.

Meski segelintir penelitian akademis mengungkapkan hal tersebut, realitas di beberapa negara berkembang menunjukkan fakta bertolakbelakang. Untuk memberikan dasar logis cara pandang tersebut, mari kita cermati beberapa jenis inovasi.

Beberapa Jenis Inovasi untuk Usaha Kecil

Pertama, inovasi terkait perumusan produk baru pada kualitas lebih tinggi. Sebagian besar literatur manajemen meyakini jenis inovasi ini sebagai hal sangat kompleks. Sehingga hanya membutuhkan tingkat pengetahuan tinggi, juga dukungan penuh sumber daya lain.

Seperti kejelian membaca tren pasar, investasi tinggi bidang penelitian, pengembangan dan produksi hingga dukungan jaringan permodalan yang cukup kuat. Inti konsep ini, bagaimana perusahaan menawarkan produk pada skala kualitas di atas impian konsumen.

Alhasil proses panjang tersebut membuat harga jual semakin melambung. Uniknya, fenomena ini yang ditunggu sebagian konsumen pada tingkat tertentu.

Dimensi citra produk atau merek menjadi elemen intangible yang mendominasi terbentuknya keseimbangan harga di pasar pada tingkat sangat tinggi.

Kedua, jenis inovasi terkait dengan bagaimana upaya produsen menciptakan produk kualitas prima dengan harga cukup terjangkau kalangan menengah. Setiap upaya pengembangan untuk melihat sejauh mana perusahaan mampu menekan biaya serendah mungkin.

Satu alternatif banyak dilakukan produsen fesyen massal dunia adalah menjadikan negara-negara padat penduduk seperti India, atau negara dengan biaya produksi relatif rendah seperti Bangladesh, Thailand hingga Vietnam sebagai basis produksi.

Umumnya, jenis ini mensyaratkan biaya tenaga kerja tak terlalu mahal. Dengan skema pelatihan keterampilan tertentu, pola ini diyakini berhasil meningkatkan daya saing negara basis produksi.

Ketiga adalah proses yang diarahkan untuk memanfaatkan setiap keterbatasan dalam merumuskan produk baru. Sebagian praktisi melihat jenis ketiga ini sebagai tantangan terbesar pada bisnis yang secara khusus melayani segmen menengah ke bawah.

Kejelian dan kreativitas menjadi kunci keberhasilan.

Di China utara, pemerintah lokal berupaya meningkatkan keterampilan generasi muda agar memperoleh pekerjaan lebih baik di kota-kota besar. Akhirnya melalui serangkaian observasi, dirumuskan keterampilan dasar, yakni bidang pemanfaatan teknologi komputer.

Fakta ini cukup logis mengingat dewasa ini penggunaan komputer sudah semakin kuat. Namun kondisi sosial di wilayah tersebut tidak memungkinkan bagi setiap individu memiliki laptop.

Rendahnya daya beli masyarakat membuat laptop sebagai produk tersier dalam keluarga. Kolaborasi pemangku kepentingan dengan sebuah produsen teknologi komputer papan atas dunia, akhirnya berhasil menciptakan komputer dengan spesifi kasi dasar yang menopang kebutuhan pengguna, pada biaya yang sangat rendah (hampir 88% di bawah produk standar).

Melalui mekanisme tertentu, produk ini berhasil terdistribusi secara merata. Tiga tahun berjalan, program ini mulai mendapat perhatian internasional.

Banyak generasi muda dari daerah tersebut yang tak hanya mampu mendapat pekerjaan lebih baik di kota-kota besar, ada juga yang berhasil meneruskan studi di kota besar dengan bekal keahlian bidang computer.

Kenyataan ini sebenarnya terlebih dahulu banyak dilakukan di India, Tibet bahkan Afrika seperti Kenya. Inovasi produk untuk melayani kelas menengah ke bawah.

Dari sisi bisnis, jenis layanan ini mampu mempertahankan kinerja perusahaan di masa krisis. Itulah yang membuat sejak 2015, sejumlah besar literatur barat mulai mengadopsi ini ke inovasi yang paling berpengaruh di abad 21.

Kini perusahaan-perusahaan papan atas mengadaptasi pola itu. Mereka tak lagi sebatas melihat sisi keberlanjutan bisnis dalam konteks pelestarian alam, juga pelestarian pasar.

Konsumen menjadi titik pusat setiap kebijakan perusahaan ini. Tren mendikte konsumen melalui produk-produk mulai beralih menjadi mendengarkan kebutuhan dasar konsumen.

Kesimpulan

Dengan cara ini, produsen dapat membantu mengerem pola konsumerisme pasar sekaligus meningkatkan akurasi menerapkan prinsip ‘bijak saat berbelanja’.

Melihat besarnya populasi di negara kita, saatnya semangat inovasi ini mengilhami para pemain lokal melayani pasar domestik. Bila ini terjadi, kita mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *