Bagaimana Usaha Kecil Menang di Persaingan Era Digital Millennial

Apa yang harus Anda lakukan dalam era persaingan digital dan fintech ? Khususnya buat para pengusaha kecil dan UMKM.

Banyak berita di media massa beberapa hari belakangan ini mengenai turunnya usaha ritel yang ditengarai karena perubahan persaingan digital.

Bisa dibayangkan buat para pengusaha kecil bahwa era digital ini tidak hanya mendatangkan kemudahan tetapi juga tantangan yang tidak kecil.

Diskusi mengenai persaingan di era digital seperti tak ada habis-habisnya. Di satu sisi, era digital membawa keuntungan baru bagi siapapun yang jeli melihat peluang di dalamnya.

Namun, di sisi lain, perkembangan digital yang terjadi saat ini memukul habis-habisan bisnis konvensional. Alhasil, ada yang menang, ada yang kalah, tetapi juga ada yang masih bisa bertahan, kendati ‘berdarah-darah’.

Yang bisa dikategorikan sebagai pemenang umumnya adalah mereka yang jeli melihat peluang dalam era digital, lalu memonetisasinya melalui berbagai wujud platform, tentunya dengan melihat kebutuhan masyarakat saat ini.

Pihak lain yang juga bisa dikategorikan sebagai pemenang adalah mereka yang selama ini menjalankan bisnis konvensional, tetapi tak tinggal diam melihat perubahan yang masif terjadi.

Adapun, yang kalah adalah mereka-mereka yang tak siap dengan perubahan yang terjadi, dan lantas menyerah pada keadaan, hingga akhirnya terhempas dari panggung bisnis alias kolaps.

Kondisi inilah yang kini terjadi di beberapa bidang usaha, sebut saja yang paling nyata kelihatan, seperti transportasi, ritel, dan biro perjalanan (travel agent).

Lihatlah bagaimana transportasi konvensional kini harus ‘gigit jari’ akibat perkembangan transportasi online yang sangat pesat dan perubahan perilaku konsumen. Tak terhitung banyaknya bisnis transportasi konvensional yang akhirnya tergeser perlahan-lahan, lalu mati.

Pentingnya Sinergi

Dalam situasi persaingan yang ketat, pilihannya bersaing atau bekerjasama. Kita bisa lihat apa yang terjadi dalam industri taksi dan travel, yang keduanya kena imbas hebat dari kehadiran pemain digital.

Taksi

Maka tak heran ketika PT Blue Bird Tbk. (BIRD) akhirnya menggandeng penyedia transportasi online, Gojek. Sinergi keduanya melalui layanan Go-Bluebird akhirnya memadamkan bara persaingan yang sempat memanas, dan yang pasti membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.

Gojek—lewat layanannya Gocar—mendapatkan tambahan armada Blue Bird yang mencapai lebih dari 30.000-an armada, sedangkan Blue Bird mendapatkan penumpang Go-car yang jumlahnya kini sangat banyak, bahkan jauh di atas kapasitas armada yang tersedia.

Tanpa melihat seberapa besar manfaat sinergi tersebut dari sisi bisnis konvensional, tentu saja kolaborasi ini paling tidak telah berhasil menyelamatkan Blue Bird dari kejatuhan lebih dalam.

Sinergi seperti ini yang kemudian didorong oleh pemerintah.

Diharapkan ada kolaborasi antara taksi reguler dan taksi online, sehingga dua entitas bisnis tersebut tetap hidup.

Travel

Di bisnis biro perjalanan, lain lagi ceritanya. Pesaing biro perjalanan konvensional adalah para pemain online travel agent (OTA). Saat ini, pemesanan tiket perjalanan ataupun hotel kini marak dilakukan lewat OTA, dan dari waktu ke waktu trennya terus meningkat.

Untuk pemesanan hotel saja, data Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) mencatat ada sekitar 294.000 hotel berbintang di Tanah Air yang kini juga berjualan melalui OTA.

Penetrasi penjualan melalui kanal OTA dari masing-masing hotel bahkan sudah mencapai lebih dari 30%. Bahkan, di PHRI sendiri, tercatat kurang lebih 55% pemesanan hotel (termasuk berbintang dan nonbintang), yang melalui kanal OTA.

Kondisi ini praktis memukul pemain konvensional, dan secara perlahan tetapi pasti menggerus pasar agen perjalanan dalam negeri. Maka tak heran pula, para pemain biro perjalanan yang tadinya murni menjalankan bisnis secara ‘tatap muka’ kini beramai-ramai mengembangkan platform online, lalu bersaing dengan OTA lainnya.

Hanya saja, tiga besar pemain OTA di Tanah Air justru merupakan pemain asing. Ini berarti, pasar yang sedemikian besar justru tidak dinikmati pemain lokal.

Situasi yang sama juga terjadi di sektor ritel. Geliat e-commerce pun telah memukul sektor ritel yang beroperasi di Tanah Air. Lihat saja di sekeliling kita.

Perubahan Strategi

Sudah banyak pusat perbelanjaan alias mal yang sepi pengunjung dan gerai ritel yang tutup karena tak kuat menghadapi gempuran berbagai toko online. Transaksi lewat platform belanja online, kendati belum bisa dipastikan dalam angka, perlahan-lahan menggerus belanja ritel.

Sebelum 2013, sumbangan belanja daring tercatat hanya sekitar 0,5% terhadap total belanja ritel saat itu yang mencapai di atas Rp130-an triliun. Saat ini, kontribusi belanja on line bahkan sudah di atas 5% terhadap omzet ritel secara keseluruhan yang sekitar Rp200 triliun (tidak termasuk makanan dan minuman olahan yang nilainya sekitar Rp1.500-an triliun).

Jelas harus ada terobosan baru bagi peritel dalam situasi seperti ini.

Mau tidak mau, mereka pun harus beradaptasi, seperti yang dilakukan beberapa pemain ritel.

Selain mengubah konsep pusat perbelanjaan dan menambah variasi tenant agar tetap ramai dikunjungi, strategi lain yang juga dijalankan adalah ikut bermain dalam platform online.

Ya, adaptasi jelas menjadi kunci bersaing di era digital saat ini. Tanpa itu, para pemain konvensional akan semakin terpinggirkan, dan lantas hilang dari radar bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *